Campak Dalong, Kesenian Tradisional Khas Suku Laut Bangka Belitung

Tuesday, September 20, 2016

Kesenian Campak sangat lekat dengan kehidupan Orang Laut, atau yang biasa disebut dengan Orang Sawang. Dalam bahasa Orang Laut, Campak berarti menyepak atau menendang, sedangkan Dalong berarti kalung. Dalam pengertiannya, gerakan menyepak ini diibaratkan dengan menyepak gelombang laut. Hal ini yang menjadi dasar atau filosofi dari Campak Dalong, “menyepak gelombang laut yang datang ke pesisir.”

Campak Dalong merupakan sebuah kesenian tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Bangka Tengah, Bangka Belitung. Kesenian ini merupakan seni tari dan juga seni lisan yang dilakukan secara bersama-sama. Dalong atau kalung yang digunakan adalah kalung yang terbuat dari kerang kecil yang dirangkai dalam seutas benang.

Tarian Campak Dalong biasa dilakukan dalam ritual Muang Jong atau Buang Jung, yaitu upacara adat sebagai wujud rasa syukur Orang Laut atas karunia Tuhan yang diberikan. Wujud rasa syukur ini disimbolkan dengan melarung miniatur perahu yang diisi dengan berbagai sesaji makanan. Tari Campak Dalong dipimpin oleh Batman yang akan menari sekaligus bernyanyi. Tarian ini juga diiringi dengan Deker, sejenis nyanyian untuk memanggil roh-roh halus.


Sejarah Campak Dalong


Masyarakat Bangka Belitung mengenal Campak Dalong sebagai “Sampan Gelang” yang berarti kesenian tradisional yang dimainkan oleh Suku Sawang, suku laut Bangka Belitung. Kesenian ini dipercaya sudah ada sejak 1010 M dan dibawa oleh leluhur otang laut dari Belitung ke Pulau Lepar.

Campak Dalong dimainkan dengan diiringi tiga gendang, yaitu Gendang Nganak, Gendang tengah, dan Gendang Nduk/Induk. Selain itu juga diiringi oleh 1 gong, 1 orang penyanyi, dan kadang juga disertai beberapa penari.

Lagu-lagu yang dimainkan dalam Campak Dalong antara lain:

-        Deker, atau nyayian untuk memanggil roh leluhur dalam ritual Muang Jong,

-        Loncong, atau nyanyian untuk mengantar jenazah suku Sawang ke daratan,

-        Daek, lagu penghibur bagi Suku Sawang,

-        Dalong, sebagai lagu pemberi semangat Suku Sawang saat melaut, dan

-        Gajah Manunggang, lagu yang menceritakan tentang kekuatan penguasa laut lebih besar dibandingkan penguasa darat.

Sumber: Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya. 2014. Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta.



Tuesday, September 20, 2016

0 comments:

Post a Comment